Melakukan Keadilan Dan Kebenaran (Yehezkiel 18 : 21-29)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ada satu kecenderungan manusia yang sangat berbahaya: kita selalu mempunyai alasan untuk membenarkan diri sendiri, tetapi begitu mudah menemukan kesalahan orang lain. Ketika gagal, kita menyalahkan masa lalu; ketika berbuat curang, kita menyalahkan keadaan; ketika menyalahgunakan kepercayaan, kita mencari pembenaran. Melalui Yehezkiel 18:21–29, Tuhan membongkar cara berpikir seperti ini. Tuhan menegaskan bahwa masa lalu tidak boleh menjadi penjara bagi orang yang mau bertobat, tetapi juga tidak boleh menjadi tempat berlindung bagi orang yang sekarang hidup dalam kejahatan. Orang fasik yang berbalik dari kejahatannya dan melakukan keadilan serta kebenaran memperoleh kesempatan untuk hidup. Sebaliknya, orang benar yang meninggalkan kebenaran tidak dapat berlindung di balik kesalehan masa lalunya. Artinya, Tuhan tidak terpesona oleh sejarah kebaikan kita, tetapi juga tidak menutup masa depan orang yang sungguh-sungguh bertobat. Masa lalu bukan jaminan bahwa kita pasti benar hari ini, dan masa lalu bukan vonis bahwa kita tidak mungkin menjadi benar hari esok. Inilah keadilan Allah: setiap orang dipanggil untuk bertanggung jawab atas jalan hidup yang sedang ditempuhnya.
Firman ini menampar realitas kehidupan bangsa Indonesia. Kita menyaksikan korupsi, penyalahgunaan jabatan, manipulasi kekuasaan, ketidakadilan hukum, dan pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat. Ironisnya, orang yang seharusnya menjadi penjaga amanah terkadang justru menjadi pelaku penyalahgunaan amanah. Namun, jangan berhenti menunjuk kesalahan para pemimpin, sebab ketidakjujuran tidak selalu dimulai dari gedung pemerintahan; ia bisa dimulai dari rumah, kantor, tempat usaha, bahkan gereja. Kita mengecam korupsi, tetapi apakah kita jujur dalam pekerjaan? Kita menuntut keadilan, tetapi apakah kita adil terhadap bawahan dan orang yang lebih lemah? Kita mengkritik pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan, tetapi apakah kita tidak pernah menggunakan kedudukan untuk memaksakan kehendak? Kita berbicara tentang kasih, tetapi apakah kita tidak pernah merampas hak, merusak nama baik, atau memperlakukan orang lain secara tidak manusiawi? Jangan sampai kita begitu sibuk membersihkan kesalahan bangsa ini, tetapi membiarkan ketidakbenaran bersarang dalam diri sendiri. Sebab persoalan terbesar bukan hanya ketika kejahatan dilakukan oleh orang yang tidak mengenal kebenaran, melainkan ketika orang yang mengetahui kebenaran memilih mengabaikannya demi keuntungan pribadi. Tuhan tidak hanya menghendaki kita menjadi pengkritik ketidakadilan, tetapi menjadi pelaku keadilan.
Karena itu, pertanyaan yang harus kita bawa pulang bukanlah, “Siapa yang salah di negeri ini?” melainkan, “Apakah saya sendiri sudah hidup benar di hadapan Tuhan?” Ingat, integritas tidak diuji ketika semua orang mengawasi kita, tetapi ketika kita mempunyai kesempatan untuk berbuat curang tanpa diketahui siapa pun. Kejujuran tidak diuji ketika berkata benar mendatangkan keuntungan, tetapi ketika kebenaran justru membuat kita kehilangan keuntungan. Keadilan tidak diuji ketika kita memperlakukan orang yang sederajat dengan kita, tetapi ketika kita berhadapan dengan orang kecil yang tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Itulah sebabnya Tuhan memanggil kita untuk berubah, bukan sekadar terlihat baik. Jika dahulu kita berbuat salah, bertobatlah. Jika sekarang kita mempunyai kekuasaan, gunakanlah untuk melindungi, bukan menindas. Jika kita mempunyai kekayaan, jangan memperolehnya dengan merampas hak orang lain. Jika kita melayani Tuhan, jangan jadikan pelayanan sebagai tempat mencari kehormatan, tetapi sebagai kesempatan menghadirkan kasih dan kebenaran. Jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk menyerah, dan jangan jadikan kesalehan masa lalu sebagai alasan untuk hidup sembarangan. Indonesia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang kebenaran; yang sangat dibutuhkan adalah orang-orang yang berani melakukan kebenaran sekalipun tidak mendapatkan pujian, bahkan sekalipun harus kehilangan keuntungan. Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak hanya menghendaki kita pandai mengucapkan keadilan dan kebenaran, tetapi sungguh-sungguh menjadi pelakunya. Amin.





